Membongkar Rahasia Besar Gojek

Membongkar Rahasia Besar Gojek

 

Pernah berdiskusi dengan anak jurusan ekonomi UI. Sebenarnya, aku lebih banyak mendengarkan karena selain memang kurang paham dengan ilmunya, juga kapan lagi dapat ilmu gratis dan hasil analisis tanpa harus pusing-pusing mikir. Topik yang sedang dibicarakan waktu itu adalah gojek.

Baca juga: Cara Menang Perdebatan Tanpa Cape

Gojek memang menarik dan sudah menjadi icon stratup di Indonesia disamping startup lain seperti Ruang Guru, Tokopedia, dan BukaLapak. Aku pribadi mengenalnya sebagai brand stratup di bidang jasa transportasi. Tapi, temen ku tadi memiliki pandangan lain. Aku mengerutkan dahi, memperbaiki tempat duduk, dan berkata ‘ceritakan pada ku lebih banyak!

Dia mulai dengan pertanyaan ‘menurut mu, Gojek ini perusahaan apa?’ hmm aku mulai pura-pura berfikir untuk menghargai pertanyaannya. Aku mengalihkan sedikit pandangan ku dari sorotan matanya yang seolah-olah mencari jawaban. Lagian jawabannya tidak akan semudah ‘namanya juga gojek, ya pasti jasa di bidang transportasi’. Setidaknya aku tidak ingin terlihat konyol dengan menjawab begitu. Akhirnya, aku jawab saja ‘mmm cukup sulit mendefinisikan’. Aku liat dia tersenyum. Aku agak lega karena sepertinya jawaban ku cukup berwibawa.

Dia berkata ‘kamu benar. gojek memang sebuah startup yang kompleks. Setidaknya, layanannya ada berupa go-ride yang bergerak dibidang transportasi, go-food dibidang makanan, dan go-massage dibidang kesehatan. Gojek tidak bisa dilihat dari apa yang tampak saat ini. Kita harus cukup jeli untuk melihat kemana arah startup ini.’ Hmmm aku mengganguk pelan agar terlihat mengerti.

Kedepan’ dia melanjutkan penjelasannya  ‘uang cash akan jarang digunakan. Orang akan lebih suka transfer atau yang lebih dikenal dengan istilah cahsless. Ada juga yang bilang moneyless.’ Tiba-tiba aku teringat dompet setipis tempe yang setipis kartu ATM. Akupun bergumam ‘apa aku termasuk moneyless’. Aku sadar saat teman ku melanjutkan penjelasanya.

Digitalisasi, atau yang milenial jaman now lebih suka menggunakan istilah era revolusi industri 4.0, juga mempengaruhi bidang ekonomi, lebih khusus lagi bentuk uang. Gojek melihat cashless sebagai sebuah peluang. Peluang ini disambut oleh Gojek dengan mengeluarkan Gopay.’ Mungkin alasan gojek memilih nama gopay adalah untuk menyaingi kata gope’ dan goceng. Hehe

Baca juga: aarrgghh! Mengapa Sulit Saat Pertama Kali Mengerjakan Sesuatu

Gopay adalah salah satu alat gojek untuk ikut andil dalam pertarungan bisnis masa depan, yaitu cashless. Dan gojek benar-benar serius dengan ini. Lihat saja iklan gojek terbaru. sebuah monster pergi membeli makanan menggunakan Gopay. Begitulah gambaran cara berbelanja di masa depan.

Jadi, sampai disini sudah mulai kelihatan kalau gojek adalah startup keuangan atau istilah milenialnya fintech, financial technology. Ambisi gojek untuk menjadi nomor wahid dalam bidang fintech terlihat dalam event pameran go-food yang diadakan di beberapa daerah.

Kebetulan saya hadir di salah satunya. Uniknya, yang membeli menggunakan gopay akan mendapatkan potongan harga 50%. Setidaknya, begitulah cara gojek mengenalkan transaksi digital kepada orang daripada harus mengetuk pintu rumah satu-satu. Bukti lain, kalau kamu memiliki aplikasi gojek, mungkin kamu tahu bahwa gojek juga mempunyai event ‘Shoptember 2018 with gopay’. Dimana, belanja online dengan gopay akan mendapatkan discount 90%.

Mungkin kamu bertanya-tanya apa dampaknya bagi kehidupan manusia jika uang menjadi digital. Dampak pertama tentu saja Security atau keamanan. Uang kamu akan cukup aman dari jambret karena kamu tidak membawa uang cash. Smartphone kamu akan menjadi dompet mu. Namun demikian, kamu sebaiknya mempertimbangkan agar memproteksi aplikasi dan smartphone kamu dengan password. Karena jika orang jahat menemukan smartphone kamu, dan kamu tidak memiliki proteksi, dia akan dengan mudah menggunakan untuk kepentingannya. Tentu saja masih banyak dampak lain, tapi saya tidak akan bahas disini.

Kemudian, mungkin kamu akan bertanya apa keutungan gojek dengan menjadi fintech. Secara sederhana, financial technology memiliki cara kerja yang mirip dengan bank. Perushaan fintech akan menggunakan uang (capital) yang masuk untuk pembiayaan bisnis yang lain. Bisnis ini bisa berupa bisnis miliki perushaan fintech tersebut, bisnis kerja sama dengan perushaan lain, atau bisnis orang lain dengan pembiayaan dari perusahaan fintech tersebut. Jadi, mereka punya uang untuk mengembangkan bisnis mereka.

Baca juga:
GAWAT! Sering Galau Berakibat Buruk Bagi Kecerdasan

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published.