Mengapa Lebih Mudah Menyalahkan Orang Lain Dari Pada Mencari Solusi

Mengapa Lebih Mudah Menyalahkan Orang Lain Dari Pada Mencari Solusi

 

Apa yang terjadi jika hari ini tidak berjalan dengan baik. Banyak hal yang kamu rencanakan tidak berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Mungkin, akan sangat mudah mengetahui alasan-alasan apa yang menyebabkan semua itu terjadi. Dan lebih mudah lagi mencari kambing hitam untuk disalahkan. Mencari kambing hitam memang mudah, yang sulit itu mencari kambing putih, karena kebanyakan yang putih adalah domba. Namun, mengapa lebih mudah menyalahkan orang lain dari pada mencari solusi?

Baca juga: Bagaimana Berpikir Negatif membuat hidupmu berantakan

Untuk memahami mengapa lebih mudah menyalahkan orang lain daripada mencari solusi, pertama kamu harus paham bahwa semua aktivitas dalam tubuh kamu membutuhkan energi. Dan, berfikir adalah aktivitas yang banyak membutuhkan energi. Otak kamu memiliki sistem untuk menggunakan energi se-efisien mungkin. Kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu seperti dikejar deadline. Kedua, kamu juga harus paham bagaimana cara kerja dasar otak dan bagaimana cara kerja otak saat mencari solusi. Dengan membandingkan kedua cara kerja tersebut, kamu akan memiliki gambaran mengapa Mengapa lebih mudah menyalahkan orang lain dari pada mengakui kesalahan atau mencari solusi.

Pada dasarnya, dalam kehidupan sehari-hari tanpa ada masalah, otak bekerja mencari informasi yang tersimpan di memori dengan cara mengambil informasi yang tepat dan paling mudah diingat sehingga konsumsi energi yang digunakan untuk mencari informasi tersebut lebih sedikit. Contoh, saat kamu sedang ingin memesan minuman di kantin, yang pertama kali muncul dalam pikiran mu adalah minuman kesukaanmu atau minuman yang biasa kamu konsumsi. Otak melakukan itu untuk mempercepat kinerjanya dan menggunakan energi yang seminimal mungkin.

Kondisi ini sama sekali berbeda saat kamu harus mencari solusi. Energi yang digunakan oleh otak jauh lebih besar. Karena otak harus mengingat-ingat informasi (pengetahuan, ilmu, skill dan pengalaman) yang kamu miliki yang mungkin berhubungan dengan masalah yang ada. Belum selesai, otak harus memilah mana informasi yang benar-benar relevan dan mana informasi yang tidak atau kurang relevan. Kegiatan ini membuat otak kamu berfikir berulang-ulang dan harus mencocokkan masalah yang terjadi dengan informasi yang ada. Bayangkan energi yang dikeluarkan sampai sejauh ini.

Baca juga: Mengapa Sulit Saat Pertama Kali Mengerjakan Sesuatu

Tapi ini belum selesai. Setelah semua informasi yang relevan didapat, otak kamu kemudian memikirkan bagaimana informasi yang kamu miliki tersebut menyelesaikan masalah yang kamu hadapi. Baru kemudian, otak mengambil kesimpulan akhir dengan memberikan satu atau lebih solusi tergantung dari daya kritis, pemahaman dan informasi yang kamu miliki. Sampai disini terlihat bahwa mencari solusi adalah aktivitas otak yang membutuhkan banyak tahap dan energi. Disisi lain, menyalahkan orang lain tidak membutuhkan energi sebesar mencari solusi. Itulah kenapa orang yang lebih cenderung menyalahkan. Oleh karena itu, menyalahkan tanpa memberikan solusi adalah salah satu indikator bahwa kamu perlu lebih rajin lagi mengasah kognitif dan daya kritis mu.

Proses panjang di atas terjadi jika kamu sudah memiliki informasi (background knowledge) yang dibutuhkan yang pada akhirnya digunakan untuk menarik sebuah solusi. Bagaimana jika ternyata, kamu tidak memiliki ilmu tentang masalah yang dihadapi? Bagaimana jika masalah yang kamu hadapi ini adalah hal baru dalam hidup mu? tentu saja proses akan lebih kompleks.

Dimulai dari otak harus mengingat-ingat informasi (pengetahuan, ilmu, skill dan pengalaman) yang kamu miliki yang mungkin berhubungan dengan masalah yang ada. Jika tidak ada, otak akan memaksa mu untuk mencari informasi atau belajar. Belajar ini bisa dalam bentuk membaca, mendengarkan atau trial and error. Informasi yang didapat dari belajar tersebut kemudian dikaji berulang-ulang dan dicocokan dengan masalah yang ada. Jika relevan, otak kamu kemudian memikirkan bagaimana informasi yang kamu miliki tersebut menyelesaikan masalah yang kamu hadapi. Baru kemudian, otak mengambil kesimpulan akhir dengan memberikan satu atau lebih solusi tergantung dari daya kritis, pemahaman dan informasi yang kamu miliki.

Analogi sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan kondisi di atas adalah saat kamu tidak ingin membeli minuman kesukaanmu karena bosan. Otak kamu akan berguman ‘baiklah, bos kita sedang bosan minum minuman yang itu-itu saja, kita harus carikan minuman lain’. Otak pun mencoba bekerja lebih keras dan disini kamu membutuhkan waktu lebih banyak untuk menentukan minuman apa yang sebaiknya kamu pesan. ‘tunggu ya, aku pikir dulu’ kamu berkata ke teman-teman mu yang terlihat sudah menuliskan pesanannya. Otak mu tidak berhasil menemukan minuman apa kira-kira yang cocok. Karena bingung, otak kamu kemudian menyuruh mu untuk melihat menu. Ini cara otak mendapatkan informasi tambahan sehingga pada akhirnya kamu dapat memutuskan pesanan mu. ‘aku pesan fruit salad aja!’

Sampai disini terlihat bahwa saat masalah tersebut bukanlah masalah yang familiar dengan kamu, akan ada proses tambahan yang otakmu harus lakukan yaitu belajar atau mencari informasi. Tentu saja, proses belajar ini membutuhkan waktu dan energi yang lebih banyak lagi. Namun, jika kamu mager, memang akan lebih mudah menyalahkan orang atau hal lain sih daripada memberikan solusi.

Baca juga:
Sering Galau Berakibat Buruk Bagi Kecerdasan

Leave a Reply

Your email address will not be published.