Pengalaman Mendapatkan Beasiswa Bakti Nusa
Halo semuanya, perkenalkan saya adalah Abdul Rozak. Saya adalah awardee dari beasiswa Bakti Nusa Batch 9. Saya akan menceritakan pengalaman saya sebagai penerima beasiswa Bakti Nusa. Saya harap melalui cerita ini, kamu juga akan termotivasi dan juga bisa menjadi penerima beasiswa Bakti Nusa. Untuk persiapan beasiswa lain, click disini.
Baca juga: Jasa Penerjemah Tersumpah
Langkah awal saya adalah mendaftar, saya menekan pada diri sendiri bahwa saya bisa dan saya percaya diri. Setelah proses pendaftaran, saya dinyatakan lulus berkas dan melalui seleksi wawancara. Setelah wawancara akan ada uji publik. Jadi, setiap peserta itu membawa 10-15 orang pendukung yang akan hadir di uji publik tersebut. Pada uji publik, kami saling beradu gagasan dan konsep. Selanjutnya, setelah dinyatakan lolos akan ada program diklat nasional.
Baca juga: Beasiswa Baktinusa Untuk Mahasiswa S1 Dalam Negeri
Selama menjadi penerima beasiswa, kita ditekankan dan disadarkan bahwa kita menerima manfaat dan berbagai fasilitas yang berasal dari zakat, infaq, sedekah dan lain-lain. Artinya dari masyarakat untuk dikembalikan ke masyarakat. Hal tersebut yang sangat kami jiwai. Tak ketinggalan kami dibimbing untuk memiliki sikap integritas, cendikia, tranformatif dan melayani. Melayani ini adalah kunci dari semua itu, kita harus kembali pada masyarakat karena kita dibiayai oleh masyarakat.
Baca juga: Pengalaman Mendapatkan Beasiswa Karya Salemba Empat (KSE)
Pengalaman yang tidak bisa saya lupakan adalah saat saya berkesempatan untuk diberangkatkan ke daerah Kapuas Hulu yang terletak di dusun Kajereng, desa Engkrengas kecamatan Selimbau. Salah satu kabupaten paling ujungnya Indonesia, yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Disana saya harus menempuh perjalanan dari bandara Sukadio Pontianak sekitar 35 jam darat dan dilanjutkan penyebrangan sungai menggunakan kapal atau sampan sekitar 6 jam. Untuk masuk ke pelosok kita harus berjalan kaki dan itu sangat luar biasa.
Baca juga: Keuntungan Menjadi Penerima Beasiswa Bakti Nusa
Saya tinggal di sana selama satu bulan tanpa listrik dan tanpa sinyal. Semua kebutuhan pokok luar biasa mahal dan untuk mendapatkan semuanya kita harus ke kecamatan dan naik perahu dengan biaya bensin sekitar 200 ribu kebutuhan-kebutuhan pokok bisa 45 kali lipat dengan harga di Jawa. Selama berada di Kapuas Hulu, saya mengajar dan membimbing adik-adik yang yang sekolahnya kadang seminggu sekali. Saya benar-benar memahami Indonesia bukan hanya gemerlapnya Jakarta atau metropolitannya. Tapi, masih banyak daerah di luar sana yang butuh untuk diperhatikan, dikelola, serta ditingkatkan. Semua itu membutuhkan para generasi muda.
Baca juga: Pengalaman Mendapatkan Beasiswa PPA


