[Bagian 2] Pengalaman Meraih Beasiswa LPDP Universitas Sydney Australia

Pengalaman Meraih Beasiswa LPDP Universitas Sydney Australia Part 2

 

Keberhasilan saya dalam mencapai beasiswa Master di University of Sydney tidak luput atas bantuan banyak pihak yang sebenarnya tidak bisa disebutkan satu per satu. Keluarga dan orang -orang terdekat itu sudah pasti menjadi pendukung moril utama, namun saya ingin menyoroti jasa pihak-pihak yang mendukung saya secara teknis; former lecturer, tutor IELTS, agency pendidikan, penerjemah tersumpah dan semua pihak yang sangat membantu dalam proses pemberkasan seleksi administrasi. Saya punya cerita menarik terkait dengan translate berkas, berhubung negara tujuan kuliah saya adalah Australia, sehingga untuk mendaptkan LoA (Letter of Acceptance) semua berkas diharuskan dalam Bahasa Inggris. Saya sudah memiliki translate transkrip dari universitas almamater saya, namun dikarenakan sedikit kesalahan teknis pada translatenya, sehingga LoA saya terhambat (akhirnya pada saat interview substansi beasiswa LPDP saya belum memiliki LoA), mengakibatkan univeristas yang saya tuju meminta berkas tambahan berupa grading scheme dari universitas sebelumnya dan translate nilai baru dari penerjemah tersumpah atau sworn translator. Beruntung saya mendapat  informasi dari komunitas peserta LPDP tentang jasa penerjemah tersumpah dari website scholarsofficial.com sehingga masalah teknis seperti ini dapat terselesaikan dengan baik. Saran saya untuk hal-hal teknis yang tidak memungkinkan untuk dikerjakan sendiri, sebaiknya di serahkan pada profesional, sehingga proses pendaftaran, penerimaan hingga interview beasiswa tidak terkendala.

Baca juga: Jasa Penerjemah Tersumpah Termurah

Oh iya, saat wawancara ada pertanyaan yang paling “tidak terlupakan” (dan setelahnya saya sesali juga kenapa jawabanya gak seperti yang direncanakan) yaitu: “Apa saja mata kuliah yang akan diambil”. Pertanyaan yang sudah saya antisipasi dan jawabanya telah saya hapal serta persiapkan sebelumnya. berhubung master yang saya ambil adalah Master of Course, sehingga mata kuliah yang dipilih mengambil peranan penting pada jenjang pendidikan master saya. Namun kenyataannya, saat adrenaline mengalir deras, apa yang disiapkan berbeda dengan apa yang dilakukan. pada saat itu saya benar-benar blank, saya mengerti apa yang akan saya pelajari, tapi ajaibnya saya lupa judul mata kuliahnya! (hahaha). Saya sangat bersyukur mendapat interviewer yang cukup pengertian bersedia mendengarkan penjabaran mata kuliah saya yang judul nya saya lupa-lupa ingat. Moral of the story, kalau kamu terlalu excited, atau terlalu cemas, tenangkan dirimu, bisa tarik nafas dalam-dalam atau apapun cara yang berhasil padamu dan jangan lupa berdoa demi kelancaran wawancara hari itu. Okey, for the last,  saya akan kasih tau persiapan yang dilakukan sebelum mendaftar beasiswa. Pastikan kalian melakukan 3 hal ini: Mencari informasi, melengkapi berkas administratif dan manajemen waktu, mempersiapkan fisik dan mental.

Baca juga: Pengalaman Meraih Beasiswa LPDP Universitas Sidney Australia Part 1

Bagi scholarship hunter informasi merupakan amunisi untuk mebidik beasiswa. Wajib hukumnya mencari informasi sebanyak dan selengkap mungkin, saya sendiri mencari informasi melalui blog walking, website resmi dan bertanya langsung dengan orang – orang yang pernah mengikuti beasiswa LPDP ataupun beasiswa yang sedang saya sasar pada saat itu. Mungkin yang jadi perhatian saya saat ini adalah, banyaknya beredar portal informasi yang memberikan data beasiswa yang tidak valid, kadaluarsa dan bahkan phishing. Alangkah baiknya walaupun harus mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya kita juga harus selektif memilah dan menelaah info-info tersebut.

Selanjutnya mengenai berkas administrasi. Kelengkapan berkas administrasi diiringi ketepatan waktu submit merupakan langkah awal keberhasilan beasiswa, sebaiknya baca dan pahami semua persyaratan yang dibutuhkan beasiswa yang kita tuju secara tuntas. Setelah itu cobalah untuk membuat perencanaan matang untuk memenuhi kriteria persyaratan administrasi yang diminta oleh sponsor.

Baca juga: Tips Lolos Beasiswa Fulbright

Saya pribadi menyiapkan berkas dan persyaratan untuk beasiswa LPDP ini hampir 1 tahun lebih (durasi yang diperlukan setiap individu terntunya berbeda-beda) karena saya tipikal orang yang boleh dibilang clumsy sehingga saya menyadari persiapan yang terjadwal dengan matang adalah hal yang dapat menolong saya dalam menentukan keberhasilan mendaftar beasiswa. Sebelum mendaftar beasiswa LPDP, saya membuat time table atau schedule untuk memonitor sejauh mana berkas-berkas administrative sudah terkumpul, dari mulai jadwal persiapan dan tes IELTS, tanggal-tanggal penting beasiswa tujuan saya, sampai jadwal tes kesehatan, saya masukkan lengkap dalam 1 time table. Sehingga saya dapat meminimalisir berkas yang kurang ataupun mengantisipasi berkas yang memakan waktu cukup lama (misalnya Letter of Acceptance, translate berkas resmi, dsb). Sehingga berkas dapat siap sebelum tanggal penutupan penerimaan beasiswa. Sedikit tips, submit berkas jangan terlalu mepet, untuk menghindari traffic website menjelang tanggal-tanggal penutupan. Sayang banget kan kalau berkas sudah lengkap tapi tidak bisa tersubmit, kalau saya sih, mentapkan deadline untuk diri saya sendiri H-5 s/d H-3 dari tanggal penutupan. Dan hal ini saya berlakukan untuk setiap beasiswa yang saya apply.

Baca juga: Beasiswa S1 Musashino University di Jepang

Kemudian persiapkan fisik dan mental. Mungkin ada yang bertanya, “kok fisik dan mental? Daftar beasiswa atau tes kekuatan?” hehehe. Kalau saya pribadi badan dalam keadaan prima dan kondisi tenang, juga merupkan factor penting yang di butuhkan dalam mendaftar beasiswa. Selama mendaftar saya usahakan enggak gampang stress dan jaga kesehatan, karena resiko macam-macam bisa saja terjadi, semisal ada berkas yang kurang, kalau saya terlalu capek atau terlalu bingung untuk melengkapi berkas tersebut bisa jadi berkas tersebut akan tertunda dan tentu saja mempengaruhi keseluruhan proses. Terlebih lagi ada beberapa beasiswa yang meminta untuk menyertakan medical record pendaftar, ga lucu aja gara-gara stress, di surat keterangan kesehatan tekanan darah di catat tidak normal, terlalu rendah atau tinggi.

Itulah segelintir kisah, tips, dan pengalaman saya dalam meraih beasiswa S2 di luar negeri. Kalo kalian mau diskusi atau konsultasi, don’t hesitate to contact me at @fitriana.nugrahati (IG).

Baca juga: Daftar Beasiswa S1 Dalam Negeri yang Dibuka Setiap Tahun

Leave a Reply

Your email address will not be published.