Mengapa Saya Baru Kuliah Master di Umur 35 Tahun?
Perjalanan awal karier saya tidak jauh berbeda dengan kebanyakan dokter. Selepas lulus sarjana kedokteran pada tahun 2005, saya meneruskan ke jenjang pendidikan profesi kedokteran (lazim disebut koasistensi) selama sekitar dua tahun lamanya. Selepas lulus jenjang ini, saya harus ikut ujian kompetensi nasional. Kelulusan ujian ini menjadi syarat mendapatkan surat tanda registrasi (STR). Dengan surat tersebut, saya boleh praktik mandiri sebagai dokter umum dengan terlebih dahulu mengurus surat izin praktik (SIP). Proses ini wajib dijalani oleh semua lulusan dokter. Bahkan lulusan yang lebih baru juga wajib magang selama setahun sebelum boleh praktik mandiri.
Baca juga: mempersiapkan diri mendaftar ke UK
Saya menyadari bahwa saya baru bisa mulai meniti karier saat teman-teman saya yang sarjana jurusan lain sudah mulai mapan. Oleh karena itu, saya ingin langsung bekerja selepas lulus dokter. Saya harus segera mandiri. Orang tua saya sudah menyekolahkan saya dengan biaya yang tidak murah. Tidak mungkin bagi saya untuk meminta lagi mereka membiayai saya kuliah pascasarjana atau spesialis.
Tapi saat itu saya bimbang. Apa saja peluang kerja bagi dokter umum baru lulus seperti saya? Berapa lama saya harus bekerja hingga bisa mengumpulkan cukup uang untuk kuliah lagi? Selain itu, saya juga ingin seperti orang lain pada umumnya. Saya ingin berkeluarga, punya rumah, kendaraan, dan hidup berkecukupan. Saya khawatir memenuhi semua itu akan butuh waktu yang lama sekali, dan saya sudah terlalu tua untuk sekolah lagi. Bila saat itu datang, saya belum tentu tahu mau kuliah spesialisasi atau master di bidang apa. Saya belum tahu minat dan bakat saya, apa kelebihan dan kekurangan saya.
Saat itu, saya sadar ternyata saya belum kenal diri saya sendiri. Saya seperti masuk hutan belantara saat gelap gulita dan tidak tahu di mana saya berdiri.
Awal karier saya: mengenali diri sendiri
Untungnya berkat silaturahmi karena berkegiatan semasa kuliah saya masih dapat berhubungan dengan para senior yang sudah lebih berpengalaman. Mengetahui saya yang baru lulus, mereka memberikan saran. Nasehat mereka ibarat secercah cahaya dalam kegelapan yang menerbitkan semangat.
Apa saran mereka?
“Selama dua tahun pertama sesudah lulus, kerja apa saja. Cari uang, tapi jangan terobsesi. Terima peluang apa saja, ada atau tidak ada imbalan materi. Jadikan segala kesempatan menjadi pembelajaran.”
Sejak awal tahun 2008, saya ikuti saran mereka, secara harfiah. Saya praktik di klinik-klinik senior saya itu. Saya juga ikut menjadi relawan di lembaga swadaya masyarakat (LSM) bidang tanggap bencana yang mereka dirikan. Setiap kegiatan sosial yang mereka adakan saya ikut terlibat. Jadi apa saja, mulai logistik hingga jadi pembawa acara. Seiring waktu, saya mulai diberi kepercayaan lebih untuk membantu mengelola jadwal jaga klinik, lalu mengelola orang dan program.
Tahun 2009, saya mulai menyadari bahwa ternyata bidang klinis bukanlah keunggulan saya sekalipun saya menyukainya. Saya sangat menyukai manajemen, walaupun tidak unggul di sana. Saya senang bergaul dan berkomunikasi dengan orang, dan saya mengetahui bahwa dalam hal ini saya merasa ada hal-hal yang saya lebih menonjol daripada orang lain.
Di saat ini pula saya sadar, bila saya kuliah lagi sepertinya saya akan memilih kuliah master daripada spesialis.
Memilih jalan karier: keluar dari zona nyaman
Minat saya terhadap manajemen makin besar. Saya mulai bertambah sering membaca buku dan artikel manajemen daripada materi kedokteran. Saya juga dipercaya untuk mengelola klinik berikut program pendidikan kedokteran keluarga yang saat itu baru dirintis oleh FK Unpad di klinik tempat saya bekerja. Saya merasa bahwa saya banyak belajar di sana. Tahun 2012, saya ditawari oleh sebuah rumah sakit swasta di Bandung untuk mengisi posisi manajer mutu.
Baca juga: Pengalaman Meraih Beasiswa LPDP ke Australia part 1
Pada saat itu saya menyadari bahwa posisi manajemen lazimnya dilakukan perekrutan tertutup berdasarkan referensi. Saya direferensikan oleh teman kuliah saya yang sudah bekerja di manajemen RS tersebut. Sepertinya, referensi dan pengalaman manajemen saya di klinik dipertimbangkan sebelum akhirnya saya direkrut. Di RS tersebut, saya harus fokus di manajemen dan tidak praktik di sana. Semenjak itu saya tidak praktik kedokteran lagi. Ini juga pertama kalinya saya tidak bekerja dengan para senior saya.
Kewalahan: haruskah sekolah lagi?
Proses penyesuaian diri saya dengan tanggung jawab pekerjaan baru tidaklah sebentar. Saya sering kewalahan, karena minimnya ilmu dan kecepatan belajar saya tidak berimbang dengan tuntutan akan penyelesaian masalah. Namun saya bersyukur berkat arahan, bimbingan, dan bantuan dari pimpinan dan rekan-rekan sekerja, saya bisa melaksanakan kewajiban saya di sana.
Saya menyenangi tantangan dunia manajemen rumah sakit yang sangat dinamis. Salah satu dinamikanya adalah dicanangkannya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di tahun 2014. Ini wujud nyata dari cita-cita bangsa untuk memiliki sistem pembiayaan kesehatan yang berkeadilan sosial seperti negara-negara maju. Dampak penerapan program ini adalah perubahan besar-besaran pada pengelolaan sarana pelayanan kesehatan. Rumah sakit harus bisa efisien dalam mengelola sumber dayanya dan tetap memberikan pelayanan bermutu. Ini yang ingin saya pelajari dan kuasai.
Saya mulai terpikir untuk kuliah master di bidang manajemen rumah sakit. Beberapa kampus di Bandung membuka program itu. Setelah mencari informasi, saya menemukan bahwa pengelolaan sarana pelayanan kesehatan yang bermutu dan efisien dalam era jaminan kesehatan semesta belum banyak dibahas di kampus dalam negeri. Bahasan ini justru dominan di program master pelayanan kesehatan di negara-negara yang sudah lama menerapkan jaminan kesehatan semesta, contohnya negara-negara Eropa Barat, Skandinavia, dan Australia.
Menjemput impian
Ketika saya menemukan kampus dambaan saya di Australia, saya diliputi keraguan. Bagaimana mungkin saya bisa kuliah di sini? Prestasi akademik saya tidak membanggakan, indeks prestasi akademik (IPK) sarjana saya di bawah angka 3 (tiga). Sumber biaya kuliah bagi saya hanya dari beasiswa saja. Tapi beasiswa mana yang mau?
Setelah mempelajari panduan dan berkonsultasi dengan teman-teman saya para penerima beasiswa yang kuliah master di luar negeri, saya memutuskan untuk melamar beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Beasiswa ini satu-satunya yang saya tahu memberikan kesempatan bagi pelamar dengan IPK kurang dari 3, dengan syarat adanya Letter of Acceptance (LoA) unconditional dari kampus tujuan (Catatan: Untuk tahun 2017 ke belakang).
Tahun 2016, saya melakukan tes IELTS, mendaftar ke kampus tujuan dan mendapatkan LoA unconditional. Saya ikut seleksi LPDP di akhir tahun 2016, namun tidak lulus.
Saya mencoba lagi di tahun berikutnya. Pada tahun 2017, seleksi ini adalah kesempatan terakhir saya karena pada akhir tahun ini saya tepat berumur 35 tahun. Ini adalah batas akhir umur pelamar seleksi beasiswa LPDP untuk tingkat master. Alhamdulillah, puji Tuhan saya lolos seleksi pada tahun ini. Kabar gembira ini saya dapatkan beberapa bulan dari kabar istri saya hamil setelah sembilan tahun menikah.
Oleh: Dian Jauhari
Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) LPDP Magister LN
program Master of Health Management, University of New South Wales, Australia
Email: dian.jauhari@gmail.com
Twitter/IG/Telegram: rockdijey
Baca juga: Pengalaman mendapatkan Beasiswa KGSP


