Pengalaman Mendapatkan Beasiswa DAAD di Jerman
Halo semuanya, perkenalkan saya adalah Nurul Kamal. Saya adalah salah satu awardee atau penerima beasiswa DAAD. Saat ini saya bekerja sebagai Project Control disalah satu BUMN di Aceh yaitu PT Pupuk Iskandar Muda. Saya akan menceritakan pengalaman saya menjadi salah satu penerima beasiswa DAAD. Saya harap kamu juga bisa mendapatkan beasiswa DAAD. Untuk persiapan beasiswa lain, click disini.
Baca juga: Jasa Penerjemah Tersumpah
Pada akhir tahun 2008, saya memberanikan diri untuk mendaftarkan salah satu program beasiswa Aceh, yaitu Aceh Scholarship for Excellence atau ASFE. Alhamdulillah saya lulus dengan syarat harus mengikuti program persiapan Bahasa Inggris selama 6 bulan. Karena saya memiliki cita-cita untuk kuliah di luar negeri, maka serius memperbaiki kemampuan Bahasa Inggris, khususnya persiapan ujian TOEFL dan IELTS.
Baca juga: Cara Mendaftar dan Mendapatkan Beasiswa DAAD di Jerman
Pada saat itu, bersama dengan teman-teman yang lolos beasiswa ASFE, kami mengikuti kelas Bahasa Inggris setiap hari mulai jam 08:00 sampai 13:00 di Pusat Bahasa Universitas Syiah Kuala. Pada akhir tahun 2009, semua yang mengikuti program persiapan bahasa inggris diberi kesempatan mengikuti wawancara beasiswa DAAD. Pada saat itu, kami diwawancarai oleh 2 professor dari Jerman, 2 Tim DAAD Indonesia, serta perwakilan pemerintah Aceh. Satu minggu setelah wawancara, alhamdulillah nama saya ada di deretan penerima beasiswa DAAD ASFE Batch 2. Selanjutnya saya dan 30 teman-teman yang lain diberangkatkan ke Jakarta untuk persiapan Bahasa Jerman di Goethe Institut Jakarta selama 9 bulan.
Baca juga: 6 Fakta Unik dan Menarik Beasiswa DAAD
Selama masa persiapan bahasa Jerman, saya mendaftar di Leibniz Universität Hannover Program Bahasa Jerman, Stuttgart University, dan Bauhaus Universität Weimar. Akhirnya saya memilih Leibniz Universität di Hannover. Setelah menyelesaikan ujian Bahasa Jerman pada bulan Juli 2010, Awal Agustus 2010 saya dan teman-teman yang lain berangkat ke Jerman. Kami melanjutkan perjuangan belajar Bahasa Jerman di kota Marburg selama 2 bulan. Pada saat itu, kami mengikuti program persiapan Testdaf dan DSH. Program ini khusus bagi yang mengambil kuliah menggunakan Bahasa Jerman sebagai bahasa pengantar perkuliahan. Sementara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar hanya melanjutkan belajar Bahasa Jerman biasa.
Baca juga: Tips and Tricks Lolos Beasiswa DAAD di Jerman
Setelah 2 bulan di Marburg, pada awal Oktober kami berpisah menuju kota tujuan kami belajar. Saya berangkat ke Hannover dan pada 2 semester pertama saya memperdalam Bahasa Jerman, khususnya bahasa teknik. karena semua isi kelas kami adalah orang asing. Awalnya cukup sulit untuk menyesuaikan diri dengan orang-orang asing. Namun, karena kami sama-sama ingin belajar, jadi kami saling mendukung dan menjadi dekat satu sama lain.
Baca juga: Pengalaman Mendapatkan Beasiswa Russian Government
Sistem pendidikan di Jerman mengacu kepada hasil atau output. Jadi, para mahasiswa tidak dituntut untuk terus hadir di kelas. Fokus penilaian adalah saat ujian, jika dalam ujian kita tidak bisa menjawab, berarti harus mengulangi ujiannya. Di Jerman, para mahasiswa diberi 3 kesempatan untuk mengulangi ujian, jika ketiga kali tidak bisa lulus ujian maka langsung dinyatakan DO.
Baca juga: Pengalaman Mendapatkan Beasiswa Romanian Government Scholarship


