Essay Beasiswa LPDP: 11 cara biar esai LPDP kamu gak nyebar vibes sombong
Nulis esai LPDP itu bukan cuma soal pamer CV atau deretan prestasi. Justru, di balik semua pencapaian itu, penyeleksi pengen lihat sisi yang lebih dalam dari kamu: seberapa bijak kamu memaknai pengalaman, seberapa realistis rencana kontribusimu, dan seberapa humble kamu dalam menyampaikannya.
Sayangnya, banyak pelamar tanpa sadar nulis dengan nada yang terlalu “menjual diri”. Bukan salah, tapi kalau gak hati-hati, tulisanmu bisa ngasih kesan “aku paling hebat” atau vibes yang terkesan sombong. Padahal, sekuat apa pun pengalamanmu, kalau cara penyampaiannya bikin penyeleksi ilfeel, peluang lolos bisa langsung menurun.
Makanya, penting banget untuk menjaga tone tulisan. Kamu bisa tetap terdengar kompeten, inspiratif, dan layak didanai—tanpa harus terlihat arogan. Nah, di artikel ini, kita bakal bahas 11 cara simpel tapi ampuh biar esai kamu tetap kuat, tapi gak nyebar vibes sombong. Siap-siap catat dan evaluasi gaya nulis kamu sekarang juga!
Baca juga: Jasa Penerjemah Tersumpah
Baca juga: Kursus Bahasa Inggris Basic, TOEFL 600+ IELTS 8.5
1. Fokus pada dampak, bukan pujian
Contoh
“Pengalaman meraih juara 1 tingkat nasional membuat saya sadar akan pentingnya konsistensi dan kerja sama tim.”
2. Tunjukkan bahwa kamu masih ingin terus belajar
3. Jika ingin menyebutkan pencapaian, jangan lupa sebut tim atau pihak lain yang mendukung
4. Memasukkan prestasi ke dalam elemen cerita
5. Hindari kata seperti luar biasa, hebat, atau brilian tentang diri sendiri.
6. Jangan mengagung-agungkan studi di luar negeri
7. Jangan terlalu membanggakan sebuah keahlian
Contoh:
❌ “Saya sudah ahli dalam bidang X.”
✅ “Pengalaman ini justru menyadarkan saya bahwa bidang X masih punya banyak tantangan yang perlu saya pelajari lebih dalam.”
Baca juga: Essay Beasiswa LPDP: 4 Kesalahan Fatal yang Harus Kamu Hindari Dalam Menulis Essay LPDP
8. Hindari daftar panjang pencapaian tanpa konteks
Daripada numpuk prestasi, lebih baik pilih 1–2 yang paling relevan dan ceritakan secara naratif + impact-nya.
9. Gunakan bahasa yang inklusif
Ganti kalimat absolut seperti:
“Saya paling mampu…”
Menjadi:
“Saya mencoba memberikan kontribusi terbaik saya…”
“Saya merasa beruntung bisa menjadi bagian dari…”
10. Tunjukkan kerendahan hati lewat visi ke depan
Contoh:
“Saya belum sepenuhnya memahami tantangan di sektor pendidikan terpencil, tapi saya berkomitmen untuk belajar langsung dari lapangan.”
11. Tulis seolah kamu sedang berdialog, bukan berpidato
Gunakan gaya tulis yang personal, jujur, dan tulus.
Pengen esai mu terlihat humble? Scholars punya rahasianya untukmu!


