Pengalaman Mengikuti Program ASEAN Youth Speech Contest
Halo semuanya, perkenalkan saya Devi Purmayanti. Saya pernah mengikuti sebuah program di ASEAN Youth Speech Contest di Fatoni University di Thailand. Di artikel ini, saya akan menceritakan bagaimana pengalaman saya selama mengikuti program tersebut. Saya harap melalui cerita saya, kamu juga bisa mengikuti mengikuti program-program Youth Speech Contest di berbagai negara. Untuk info edu lain, click disini.
Baca juga: Jasa Penerjemah Tersumpah
Dalam rangka memeriahkan anniversary Fatoni University yang ke-20, diadakan beberapa jenis perlombaan, seperti ASEAN English speech, ASEAN Arabic speech, ASEAN English debate, ASEAN Arabic debate, kaligrafi, nasyid, dan beberapa jenis olimpiade yang lainnya. Untuk beberapa jenis lomba, pesertanya terdiri dari negara-negara ASEAN, seperti, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, dan Indonesia. Selain itu, ada beberapa jenis perlombaan juga yang hanya diikuti oleh peserta asal Thailand selatan, seperti lomba nasyid, lomba cerdas cermat, lomba voli, dan beberapa olimpiade science.
Baca juga: Pengalaman Menjadi Awardee YSEALI Academic Fellow
Ada dua skema dari alur perlombaannya, yakni mendapat undangan langsung dari University tersebut dan mendaftar secara personal. Pada saat itu, kampus saya mendapat undangan, sebab sebelumnya kampus saya sudah bekerja sama dengan Universitas Fatoni. Jadi, kampus saya langsung menyeleksi mahasiswanya untuk bisa mewakili kampus dan juga Indonesia, dan beruntungnya saya terpilih menjadi perwakilan dari kampus saya.
Ada beberapa strategi yang saya gunakan berdasarkan pengalaman saya ketika mengikuti perlombaan tersebut. Untuk ASEAN English speech contest, terdapat 3 tahapan lomba. Yang pertama babak penyisihan, babak semi final, sama babak final. Tentunya, di setiap babak ini memiliki tantangannya masing-masing. Untuk babak pertama, saya berhadapan dengan kurang lebih 50 peserta dari ASEAN. Dari babak ini dipilih 10 terbaik untuk maju ke babak semi final. Durasi speech di babak pertama hanya sekitar 5 menit saja. Dan tema yang digunakan masih bebas. Tema waktu itu antara lain, tentang pendidikan, perdamaian, dan sosial issue.
Baca juga: Pengalaman Mempublikasikan Artikel Ilmiah
Waktu itu saya membawakan tema tentang “Peace” yang tentunya sudah saya persiapkan sebelum saya mengikuti lombanya, begitu juga untuk peserta yang lain. Babak pertama berjalan dengan lancar dan saya lolos ke babak selanjutnya. Kemudian untuk babak semi final, saya berhadapan dengan 10 peserta terbaik dari ASEAN. 2 peserta dari Thailand, 3 peserta dari Malaysia, 3 peserta dari Indonesia, dan 2 peserta dari Brunei Darussalam. Peserta utusan dari Indonesia waktu itu adalah saya sendiri, satu mahasiswa dari Jakarta, satunya dari Aceh. Tentunya 10 speaker ini memliki ciri khas masing-masing dalam delivering speech. Babak 2 berlangsung dan Alhamdulillah lagi, saya terpilih masuk ke babak final.
Di babak final hanya dipilih 5 orang terbaik dan pesrtanya terdiri dari 2 orang dari Indonesia, 1 orang Thailand, 1 orang Malaysia, dan 1 orang Brunei Darussalam. Di babak terakhir ini, topik yang diberikan adalah sudden topic. Jadi, para peserta mengambil lotre 10 menit sebelum tampil dan langsung membicarakan topik tersebut di podium. Bagi saya, ini hal yang paling menantang dalam mengikuti lomba ini. Sejujurnya, saya sempat takut dan insecure kalau saya akan gagal.
Baca juga: Pengalaman Mengikuti Student Exchange di Slovakia
Dengan segala kemampuan dan tekad, saya mencoba untuk tetap percaya diri. Saya bismillah dan mencoba menampilkan yang terbaik. Ketika tampil, saya sebenarnya tidak terlalu yakin apakah sudah maksimal atau belum. Tapi, ketua prodi saya yang mendampingi saya lomba, meyakinkan saya bahwa saya sudah melakukan yang terbaik. Alhamdulillahnya saya mampu menyampaikan speech sesuai dengan kriteria panitia yaitu dengan durasi 7 menit. Pada saat pengumuman, alhamdulillah saya diumumkan sebagai pemenang pertama.
Baca juga: Pengalaman Mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah


