Pengalaman Menerima Beasiswa Jalur Syekh-Toyyib untuk Kuliah di Sudan

Pengalaman Menerima Beasiswa Jalur Syekh-Toyyib untuk Kuliah di Sudan

Hallo, pejuang beasiswa! Perkenalkan, saya adalah Luthfiana, dan biasa dipanggil Lutev. Saya asli Semarang, dan saat ini saya sedang menempuh pendidikan di International University of Africa (IUA), Sudan. Nah, apakah kamu penasaran, bagaimana pengalaman saya hingga bisa menerima kesempatan sebagai penerima beasiswa ini? Jika iya, melalui kesempatan kali ini, saya akan membagikan pengalaman saya kepada kamu. Semoga cerita saya bisa memberikan inspirasi, skaligus memberikan informasi bagi kamu yang berminat meraih beasiswa ke Sudan. Untuk info beasiswa lain, silahkan click disini.

Baca juga: Jasa Penerjemah Tersumpah

Pertama-tama, kalian tau gak sih, jalur apa saja yang bisa dilalui untuk mendapatkan beasiswa ke Sudan? Cukup banyak jalur beasiswa untuk mendapatkan beasiswa ke Sudan, lo. Jalur beasiswa tersebut adalah jalur Kemenag atau pemerintah, jalur ormas (PCINU, Wadah Islamiah, Muhammadiya, PKS, dan lain – lain), jalur kerja sama pondok pesantren dengan IUA, dan jalur umum (Syekh-Toyyib). Saya sendiri berhasil berkuliah di Sudan melalui jalur umum atau Syekh Toyyib.

Awal Mengetahui Info Jalur Syekh-Toyyib

Saya dulu memang memiliki minat besar untuk berkuliah di luar negeri, terutama daerah Timur Tengah. Saya sedikit bingung memilih antara berkuliah di Mesir yang merupakan tujuan terpopuler, atau negara lain. Namun, beasiswa untuk ke Mesir umumnya harus menunggu satu tahun sebelum diberangkatkan. Contohnya, jika saya diterima beasiswa tahun ini, bisa jadi saya berangkat ke Mesir tahun berikutnya. Nah, saat itu lah ustazd di tempat saya kursus di Pare mengenalkan saya dengan beasiswa ke Sundan, khususnya jalur Syekh-Toyyib.

Awalnya saya sedikit sangsi. Karena, pada dasarnya, jalur Syekh-Toyyib tidak berasal dari penyedia yang jelas seperti jalur Kemenag atau jalur pondok dan organisasi. Jalur Syekh-Toyyib lebih seperti saya dibawa oleh calo untuk bisa masuk ke IUA melalui jalur beasiswa. Nah, saat itulah saya coba untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai jalur ini, melalui mahasiswa yang sudah menjadi awardee jalur yang sama. Alhamdulillah, saya bisa berkomunikasi dengan awardee, dan beliau sangat responsive dengan memberikan jawaban yang mendetil. Akhirnya, setelah meminta persetujuan orang tua, saya membulatkan tekad mendaftar beasiswa Sudan jalur Syekh-Toyyib.

Baca juga: Pengalaman Mengikuti Kompetisi Nasional dan Internasional

Persiapan Mendaftar

Perlu kamu ingat, jika persipan pendaftaran beasiswa, terutama beasiswa luar negeri merupakan hal yang penting. Persiapan ini dimulai dengan aktif mencari info terkait persyaratan beasiswa yang harus kamu penuhi, dan bagaimana format yang diinginkan. Di tahap ini, saya banyak mencari info di google. Dari sini saya paham jika jalur Syekh-Toyyib mewajibkan seluruh dokumen berbahasa Indonesia ditranslate ke bahasa Arab, dan saya harus menyediakan terjemahannya sendiri. Berbeda dengan jalur pemerintah, dimana kamu hanya menyediakan berkas yang diperlukan. Lantas, pihak penyelenggara yang akan menerjemahkan. Akhrinya, saya menggunakan jasa penerjemah tersumpah untuk dokumen yang diperlukan. Oh iya, setiap jalur memerlukan biaya yang berbeda. Jumlah biaya ini beragam, ada yang 30 juta, 20 juta, maupun 17 juta. Saya sendiri harus membayar 22.5 juta. Uang yang kamu berikan ini mengcover beberapa hal termasuk biaya trip 2 hari ke Malaysia.

Baca juga: Pengalaman Mendapatkan Beasiswa MEXT di Jepang

Melalui Pelatihan

Sebelum berangkat ke Sudan, saya harus menerima pelatihan selama 2 bulan di Malang. Pelatihan ini bersifat wajib bagi seluruh pendaftar. Di tempat pelatihan, saya belajar Bahasa Arab, Kitab Baina Yadaik, percakapan sehari-hari, latihan-latihan soal, hingga setoran hafalan. Di akhir pelatihan, saya dan sekitar 40 kandidat lainnya mengikuti tes yang diadakan di gedung pascasarjana UIN Malang.

Baca juga: Pengalaman Mendapatkan Beasiswa KGSP di Korea Selatan Jalur Embassy

Pengalaman Menjalani Tes

Ada tiga jenis tes yang saya lalui. Tes pertama adalah tertulis. Tes tertulis terdiri dari 50 soal menentukan jamak dari mufrodat, mengisi jamaknya, murodifnya, lawan katanya, dll. Lalu, 50 soal lagi meliputi Sirah Nabawiyah (kelahiran Nabi, tanggalnya, perang, dan tahun-tahun, selain itu harus hafal nama-nama) dan Mustholahah Hadist (perawi, hadist Dhoif, sambung ayat mulai dari juz 1-2 sekitar 10 soal). Tes kedua merupakan ujian lisan yang berupa sambung ayat Al-Quran mulai dari Juz 1 sampai Juz 2. Selanjutnya, tes ketiga yang berupa wawancara dalam bahasa Arab.

Selama wawancara, hal pertama yang saya lakukan adalah perkenalan diri. Saya menyebutkan hobi hingga alasan saya berkuliah ke Sudan dan memilih Jurusan yang saya pilih. Lantas, saya menjelaskan harapan serta target saya setelah lulus kuliah nanti. Terakhir, pewawancara akan memberikan sebuah kasus dan saya harus memberikan pendapat saya terkait kasus yang diberikan. Kasus yang ditanyakan pada saya saat itu adalah “Bagaimana jika menjadi seorang ayah dan kamu memiliki anak laki-laki dan berumur 18 tahun dan ingin menikah di umur segitu”.

Baca juga: Pengalaman Mendapatkan Beasiswa AAS di Australia

Saya belajar dan mempersiapkan diri dengan sungguh-sunggu sebelum melewati ketiga tes diatas. Waktu itu, kandidat dengan nilai 70 hingga 75-an tidak lolos. Namun, Alhamdulillah saya mendapat nilai 80. Sore harinya, saya menerima pengumuman jika saya berhasil lulus beasiswa Syekh-Toyyib.

Nah, itu adalah cerita pengalaman dan perjalanan saya hingga bisa menerima beasiswa Sudan ke UIA melalui jalur Syekh-Toyyib. Hal utama yang harus kamu pegang di proses pendaftaran beasiswa Sudan adalah rajin-rajin mencari info beasiswanya, dan ini berlaku untuk semua jalur, baik jalur Kemenag, Pondok Pesantren, hingga Syekh-Toyyib. Akan lebih baik jika kamu bertanya langsung kepada kakak tingkat yang sudah menerima beasiswa di jalur yang kamu inginkan. Lalu, pastikan kamu mempersiapkan dokumen yang diperlukan dengan sesakma. Karena tahap penyeleksian dokumen adalah tahap yang penting. Jika kamu melakukan kesalahan, atau ada dokumen yang tidak sesuai, maka kamu akan gugur.

Baca juga: Pengalaman Mendapatkan Beasiswa Karya Salemba Empat (KSE)

Leave a Reply

Your email address will not be published.