Mengapa Sulit Memahami Pelajaran yang Dibenci

Mengapa Sulit Memahami Pelajaran yang Dibenci

 

Ada sebuah pepatah klasik yang mengatakan ‘do what you love and love what you do’. Pepatah tersebut mengajarkan dua hal. Pertama, saat kamu mencintai sebuah pekerjaan, kamu akan dengan mudah dan tanpa beban dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Kedua, membenci suatu pekerjaan akan membuat pekerjaan tersebut menjadi lebih sulit untuk dikerjakan dari keadaan sebenarnya. Kondisi yang sama terjadi saat kamu membenci sebuah pelajaran. Tapi, bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Mengapa bisa begitu sulit memahami pelajaran yang dibenci?

Saat kamu bangun tidur di pagi hari dan kamu menyadari bahwa ada pelajaran yang kamu tidak sukai hari ini, otak kamu menggapnya sebagai ancaman dan mulai mengaktifkan amygdala. Amygdala adalah bagian otak yang berhubungan dengan rasa takut. Saat kamu mulai masuk ke dalam ruang kelas, amygdala kamu semakin aktif dan  mulai mengontrol otak untuk masuk dalam mode fight-or-flight (serang atau lari) bukan mode belajar. Mode ini juga menjadi salah satu alasan mengapa ada orang yang memilih untuk bolos atau dalam kondisi yang lain, dia tetap hadir di kelas tapi mengerjakan hal lain. Inilah cara otak kamu lari (flight) dari kondisi cemas tersebut untuk lebih menenangkan diri.

Dalam kondisi fight-or-flight ini juga, tentu saja belajar menjadi bertambah sulit. Kesulitan yang kamu alami tersebut direkam oleh Amygdala dan digunakan sebagai bukti bahwa rasa benci kamu terhadap pelajaran tersebut cukup beralasan. Saat kamu mempunyai alasan, Amygdala akan semakin aktif. Kondisi ini kemudian membuat otak kamu tidak bisa membedakan antara benci karena alasan yang nyata atau hanya karena ketakutan-ketakutan yang kamu buat sendiri.

Dari proses tersebut, otak kamu akan mulai berfikir negative tentang pelajaran dan keadaan di sekitar mu. Mulai dari pelajarian sulit, penjelasan kurang detail, situasi kelas tidak nyaman, guru yang kurang kompeten dan lain-lain. Berdasarkan sebuah riset di Journal of Clinical Psychology, seseorang dengan negative thinking akan lebih sulit dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya. Lebih jauh lagi, negative thinking merusak kemampuan orang tersebut dalam memproses informasi dan berfikir jernih sehingga membuatnya lebih sulit untuk memahami sesuatu.

Kesulitan yang dialami tersebut terjadi berhubungan erat dengan cara otak menyimpan ingatan. Saat kamu memahami sesuatu, otak kamu akan membuat sel otak (neuron). Neuron tersebut membuat warna otak yang awalnya putih menjadi abu-abu. Semakin banyak warna abu-abu di otak kamu, semakin banyak kamu memahami sesuatu. Sedangkan, seseorang dengan pengetahuan yang sedikit memiliki warna abu-abu lebih sedikit tapi memiliki bagian otak berwarna putih yang lebih banyak. Mungkin itulah mengapa baju seragama SMA Indonesia berwarna putih abu-abu yang secara filosofis bermakana ubahlah dari ketidaktahuan (putih) menjadi berpengetahuan (abu-abu).

Berdasarkan penelitian, negative thinking, stress, dan rasa benci membentuk lebih banyak warna putih otak sebaliknya warna abu-abu otak yang terbentuk jauh lebih sedikit. Kamu bisa bayangkan jika kondisi ini terjadi terus-menerus. Semakin lama jumlah warna abu-abu otak kamu semakin sedikit yang berarti semakin sulit kamu dalam belajar dan memahami pelajaran yang pada akhirnya membuat kamu semakin benci terhadap pelajaran tersebut.

nb: Kamu juga bisa berbagi inspriasi dengan tulisan dengan cara mengirimkan tulisan mu ke scholarsofficial1@gmail.com

Baca juga:
Sering Galau Berakibat Buruk Bagi Kecerdasan

Leave a Reply

Your email address will not be published.