Cara Menang Perdebatan Tanpa Cape

Cara Menang Perdebatan Tanpa Cape

 

Saat dalam perdebatan panas, kamu seolah-olah tidak ingin memberikan lawan bicara mu kesempatan untuk berbicara dan menyanggah argumentasi mu. Dengan cara seperti itu, kamu menganggap bahwa kamu akan memenangkan perdebatan tersebut. Dominasi cenderung dianggap sebagai salah satu tolak ukur kemenangan ketika seseorang sedang berdebat terlebih lagi dalam debat kusir, dan tentu saja hal itu kurang tepat. Selain itu, kamu juga berharap dengan penjelasan panjang lebar tersebut, lawan bicara mu akan mengerti. Dan, kamu bisa membuktikan bahwa kamu benar.

Baca juga: Sering Galau Berakibat Buruk Bagi Kecerdasan

Tapi, kamu pasti sadar, setelah kelelahan yang membuat kamu berhenti berdebat, semua penjelasan yang kamu berikan dengan berapi-api ternyata sia-sia. Karena, disisi lain, lawan bicara kamu juga berfikir hal yang sama dan melakukan apa yang kamu lakukan. Dia juga mencari pembenaran tanpa mau mendengarkan dan memahami. Dia juga seolah-olah tidak ingin memberikan mu kesempatan untuk berbicara dan menyanggah argumentasinya karena dia juga menganggap dominasi adalah kemenangan.

Pada akhirnya, kamu, kalian berdua, tetap mempertahankan argumentasi masing-masing. Dan yang kamu dapatkan hanyalah kelelahan dan kejengkelan. Lebih banyak energi dan waktu yang dihabiskan untuk berdebat daripada memenangkan perdebatan atau menemukan jalan keluar tentang hal yang diperdebatkan tersebut. Namun, adakan cara menang perdebatan tanpa cape?

Lebih Banyak Diam

Silent is gold. Dalam perdebatan, dua orang akan berbicara keras walaupun sedang berdekatan. Hal tersebut terjadi karena hati mereka berjauhan. Diam akan mendekatkan hati dan menurunkan tensi perdebatan. Jika perdebatan terjadi di tempat umum, memilih untuk diam tidak membuat mu tampak lemah, sebaliknya kamu akan terlihat elegan dan bijaksana. Memilih diam ketika orang lain memberikan argumentasi panjang lebar apalagi dengan nada sedikit tinggi juga membutuhkan jiwa yang dewasa. Semua orang paham itu, termasuk lawan bicara mu. Sikap diam mu tersebut akan membuatnya salah tingkah, tidak percaya diri dengan apa yang diucapkan, mulai mengecilkan suara, dan akhirnya memilih diam.

Untuk membuat diam mu lebih karismatik. Kamu bisa melakukan beberapa hal berikut. Pertama, coba untuk mentap ke arah mata saat dia berbicara. Eye contact akan membuat mu terkesan sebagai orang yang memiliki ‘kepercayaan diri’ tinggi. Sebaliknya, Eye contact justru membuat lawan bicara mu memberikan ‘rasa hormat’ tanpa dia sadari. Kedua, sedikit tersenyum tulus. Saat seseorang berargumentasi apalagi dalam keadaan sedikit emosi, dia akan lebih peka terhadap bahasa non verbal. Otak, khususnya amygdala, akan mampu menangkap perubahan mimik muka dengan lebih detail untuk menyerang lebih inten. Sedikit senyum, tapi bukan meremehkan, akan membuat otak lawan bicara tidak fokus. Karena saat perdebatan terjadi, otak siap dengan ancaman berupa argumentasi, makian, amarah dan lain-lain. Sedangkan senyum dikenali oleh otak sebagai bentuk penghargaan.

Baca juga: Mengapa Sulit Memahami Pelajaran yang Dibenci

Lebih Banyak Mendengarkan

Mendengarkan bukan hanya tentang sikap tapi lebih jauh lagi adalah tentang skill. Mendengarkan juga membutuhkan kecerdasan selain juga kebijaksanaan. Saat kamu memilih mendengar dalam perdebatan, kamu satu langkah lebih maju karena dapat melihat kemana arah pembicaraan lawan bicara mu. Saat mengetahui hal tersebut, kamu dapat mengantisipasi apa yang akan dijadikan argumentasi. Dengan begitu, kamu tidak perlu menjawab semua hal yang lawan bicara mu ucapkan.

Mungkin, saat membaca ini, kamu akan membatin dan membayangkan kalau telinga mu akan panas mendengarkan semua argumentasinya. Tapi, setidaknya disitulah letak perbedaannya. Seperti sebuah quote “don’t break your manner just because other people treat you bad”. Jangan rusak sikap mu hanya karena orang lain memperlakukan mu dengan buruk. Karena, tidak akan ada bedanya antara kamu dan dia jika bersikap sebagai mana dia bersikap. Pada akkhirnya, kamu mulai menjadi bukan diri mu sendiri.

Untuk membuat sikap mendengarkan mu lebih powerful, mengangguklah dengan pelan beberapa kali. Mengangguk dengan pelan adalah tanda bagi otak lawan bahwa kamu memahami apa yang disampaikan. Ini bukan tanda bahwa dia benar dan menang. Justru sistem otaknya akan lebih mendengarkan dan memperkecil penolakan tentang apa yang akan kamu sampaikan.

Fokus Pada Satu Topik

Pada saat perdebatan terjadi, otak mengambil apa saja yang dirasa dapat membenarkan argumentasinya. Disis lain, self-esteem membuat seseorang tidak ingin terlihat konyol dengan tidak dapat memberikan bukti bagi argumentasinya. Mungkin kamu pernah mengalami, membahasa sesuatu sampai berdebat. Berdebatan dimulai sebuah topik dan kemudian melebar pada topik-topik yang lain yang terkadang sama sekali tidak berhubungan. Semakin melenceng topik perdebatan dari topik awal, semakin lama dan melelahkan perdebatan tersebut.

Agar tidak begitu, ingat baik-baik topik apa yang sedang kamu perdebatkan. Pahami batasan-batasan pembahasannya. Jangan keluar dan melebar pada pembahasan lain. Saat pembahasan lawan bicara mu mulai meluas, kamu cukup berkata “kita sedang membahas ini, bukan itu” atau kata-kata lain yang sejenis.

Bertanya

Ini adalah cara yang paling saya sukai. Ingatlah bahwa dalam perdebatan, seseorang cenderung untuk membenarkan apa yang diucapkan. Otak kurang bisa berpikir dengan jernih dan akan tanpa sadar membuat pernyataan-pernyataan yang kontradiktif. Dengan mempertanyakan argumentasinya, pada akhirnya dia akan terpojok dengan pernyataannya sendiri. Saat dia dapat menjawab pertanyaan, egonya akan merasa tinggi hati dan otaknya semakin tidak dapat berfikir dengan jernih. Disisi lain, kamu sebaiknya cukup mengingat jawabannya sebagai bahan untuk diperbandingkan dengan argumentasi dia berikutnya.

Dengan bertanya, kamu menghemat energi mu. Sebaliknya, lawan bicara mu akan befikir keras. Dia akan menggunakan dan menghabiskan banyak energi untuk membuat argumentasi, penjelasan dan pertanyaan yang kamu berikan, sedangkan kamu hanya mendengarkan dengan santai setiap jawabannya. Tanpa sadar dia mengikuti permainan mu dan kamu memegang kendali. Pada akhirnya, jika kamu melihat ada celah, dan pasti ada celah, dari penjelasannya, kamu cukup berkata ‘bukannya kata mu tadi begini, mengapa sekarang begitu?’ dalam ilmu bela diri, teknik ini dikenal dengan nama Tai Chi yaitu menyerang lawan menggunakan kekuatan lawan tersebut.

Baca juga:
Oh begitu! Mengapa Sulit Saat Pertama Kali Mengerjakan Sesuatu

Leave a Reply

Your email address will not be published.